Rabu, 08 Januari 2014

Karya Pelangi: Kolaborasi Karya untuk Cinta Luar Biasa


Karya Pelangi, adalah buku kumpulan kisah-kisah inspiratif dari penyandang disabilitas, keluarga penyandang disabilitas, pemerhati dan masyarakat yang ada di sekitar mereka. Karya pelangi awalnya adalah sebuah kompetisi menulis dengan tema Love Dream and Disability, dan kisah yang di bukukan dalam buku Karya Pelangi ini adalah pemenang kompetisi tersebut.

Buku Karya Pelangi diterbitkan oleh penerbit Selaksa dari Jogjakarta. Acara launching buku Karya Pelangi 03 November 2013 lalu, di Solo Grand Mall. Acara launching buku ini sendiri dihadiri oleh Walikota Solo, perwakilan Kemensos RI, YCHI, Gerkatin Solo, DVO, IDCC, Akademi Berbagi, ILMPI, Kartunet, dan PMOI.

Gerkatin Solo menyanyikan Indonesia Raya dengan bahasa isyarat, Launching buku Karya Pelangi.

Ada 31 kisah yang disajikan dalam buku ini. Salah satu yang menarik adalah sebuah tulisan Rully Anjar, “Lihat dan Rasakan Sensasi Teater Tuli”. Rully merupakan seorang relawan penerjemah Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) Deaf Volunteering Organization (DVO), di Solo. Rully bercerita mengenai lika-liku penyelenggaraan pentas teater yang untuk pertama kalinya akan di pentaskan oleh teman-teman tuli yang tergabung dalam Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kota Solo. Teater tersebut diberi judul Sudo Ora Sudo (Kurang namun Tidak Kurang). Teater ini menceritakan seorang orangtua yang malu dan menutup-nutupi keadaan anak semata wayangnya yang tuli, namun akhirnya sang anak dapat membuktikan diri bahwa dia bukanlah beban dan aib melainkan seorang yang mampu seperti orang normal pada umumnya. Ketua panitia dari pentas teater ini adalah seorang tuli. Cerita yang akan dipentaskan juga merupakan hasil ide langsung teman-teman tuli. Bahkan teman-teman tuli ini sendiri yang membuat proposal pengajuan kerjasama dan mencari sponsor. Banyak hal terjadi dalam proses penyelenggaraannya sampai akhirnya pentas ini digelar. Pentas teater ini sendiri terbilang sangat sukses. Kerja keras mereka terbayar sudah, pentas mereka mampu menyedot perhatian tidak kurang dari 400 orang penonton. Dari pentas ini, penyandang tuli ingin membuktikan bahwa mereka mampu membuat karya yang luar biasa dan mereka mampu.
Pentas teater tuli "Sudo ora Sudo".

Lain halnya yang diceritakan oleh Ratna Pramudyanti dalam tulisannya berjudul “Pelangi Selalu Berwarna”. Ibu dua putra ini menceritakan pengalamannya memiliki anak dengan Gangguan Pusat Perhatian (GPP). Kondisi ini membuat Muhammad Syarifudin Hidayatullah  sering tidak naik kelas. Awalnya kondisi anak sulungnya membuat Ratna sedih dan kecewa, namun pada akhirnya perempuan yang berprofesi sebagai guru SLB tetap mengusahakan yang terbaik buat anaknya. Ketika Syarif, panggilan akrabnya, tidak bisa naik kelas di sekolah umum dimasukkan ke SLB tempatnya bekerja. Namun kemudian di SLB dia justru mengalami perkembangan yang menggembirakan sehingga bisa melanjutkan ke SMP regular dan kemudian ke SMA regular. Saat ini Syarif bersekolah di SMKN 8 Surakarta dan sering mengikuti pentas menyanyi di kegiatan sekolah. Dia juga bisa menerima pelajaran di sekolah ini dengan baik hingga bisa masuk rangking sepuluh besar di kelasnya. Selain itu dia juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap siswa difabel (different ability) lain seperti tunanetra. Hal inilah yang pada akhirnya membuat kedua orangtuanya bangga.


Ibu Ratna dan puteranya Syarif saat launching buku.

Seorang Psikolog dan artis , Tika Bisono dalam komentarnya pada sampul buku ini, mengungkapkan: “Ketika orang memandang remeh diri kita, saat itulah waktu yang tepat untuk menunjukkan kepada dunia akan kemampuan kita. Bukan karena kesombongan, tetapi karena setiap orang, siapapun itu diciptakan dengan kelebihannya masing-masing. Setiap orang bisa menjadi Luar Biasa. Kisah-kisah dalam buku ini adalah buktinya. Kisah yang full inspiration, full motivation”

Menariknya dari membaca buku yang bersampul hardcover dan halaman penuh warna ini, membuat kita menjadi terharu dan merenung, bahwa disekitar kita banyak penyandang disabilitas yang kurang mendapat perlakuan yang layak padahal mereka mempunyai kemampuan. Buku ini juga memberikan lecutan bagi mereka yang selama ini memiliki kondisi fisik yang lebih layak, namun justru kurang  kemauan untuk berprestasi. Bagimanapun penyandang disabilitas juga manusia yang harus kita hargai dan beri kesempatan yang sama dengan yang lain. (Winda/ Gilang)

Judul buku       : Karya Pelangi #1; Kolaborasi Karya untuk Cinta Luar Biasa
Penerbit           : Selaksa (Era Intermedia)
Penulis             : Nilla Gustian, dkk.
Rilis                 : November 2013
ISBN               : 978-602-1697-04-7
Halaman          : 392 Hal warna
Cover              : Hardcover






Tidak ada komentar:

Posting Komentar